Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Ketahanan Kesehatan Mandiri: Syarat Mutlak Indonesia Lolos dari Middle-Income Trap

162

Jakarta, 24 Juni 2026 

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa membangun ketahanan kesehatan nasional yang mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan kelas menengah (middle-income trap). Hal tersebut disampaikannya dalam High Level Roundtable Discussion: Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Rabu (24/6).

Pertemuan yang turut dihadiri Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan ini menandai transisi penting ASEAN periode 2026–2030, dari sekadar komitmen politik menjadi implementasi praktis di lapangan.

“Belajar dari pandemi COVID-19, saat krisis melanda, setiap negara pasti akan menyelamatkan rakyatnya sendiri terlebih dahulu. Untuk itu, negara sebesar Indonesia dengan 280 juta penduduk wajib memiliki kedaulatan kesehatan sendiri, mulai dari vaksin hingga obat-obatan. Kita tidak boleh lagi hanya bergantung pada belas kasihan negara lain,” ujar Menkes Budi.

Menkes memaparkan, saat ini ketergantungan Indonesia terhadap impor produk kesehatan telah berhasil ditekan. Dari sebelumnya di atas 90%, kini turun menjadi kisaran 70-80%. Kemenkes telah memfasilitasi 35 Bahan Baku Obat (Active Pharmaceutical Ingredients/API) untuk diproduksi di dalam negeri guna memastikan hilirisasi dari hulu ke hilir benar-benar terjadi.

“Kita ingin belanja kesehatan kita yang tumbuh 12-13% per tahun itu tidak lari ke luar negeri, tapi berputar di dalam negeri untuk menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan PDB. Contohnya, kita membangun pabrik pengolahan plasma darah di Karawang. Targetnya awal 2027 kita sudah bisa memproduksi sendiri produk seperti Albumin dan Immunoglobulin yang selama ini kita impor dengan harga mahal,” jelas Menkes Budi.

Sebagai bagian dari strategi ketahanan regional, Indonesia kini telah memiliki tiga perusahaan vaksin dengan kapasitas produksi yang meningkat hingga 60%. Tak hanya itu, Indonesia juga mulai memosisikan diri sebagai pusat (hub) riset di ASEAN.

Saat ini, Kemenkes tengah memfasilitasi berbagai uji klinik vaksin penting, mulai dari vaksin TBC, Malaria, Dengue, hingga PCV13. Pemerintah juga mengirimkan tenaga ahli untuk mengikuti pelatihan biomanufaktur dan platform teknologi terbaru (mRNA) di lembaga internasional seperti Tsinghua University dan Leiden Biotech.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan dukungannya terhadap langkah Kemenkes. Luhut menilai program penguatan fasilitas kesehatan ini sejalan dengan target Presiden Prabowo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7-8 persen.

“Kesehatan adalah kunci. Dengan bantuan teknologi (GovTech) berbasis AI, Indonesia akan menjadi lebih transparan dan efisien. Jika ekosistem kesehatan ini terbangun mandiri, kita sangat optimis ekonomi kita tumbuh sesuai target,” kata Luhut.

Senada dengan hal tersebut, Anggota DEN Mari Elka Pangestu menekankan pentingnya kerja sama regional ASEAN.
“Kita punya pasar 650 juta jiwa di ASEAN. Ini kekuatan besar untuk mendukung industri vaksin regional. Kita harus punya sistem rantai pasok bersama agar saat ada ancaman pandemi lagi, kita sudah siap secara kolektif,” tambahnya.

Untuk memperkuat sistem pertahanan kesehatan nasional, Kemenkes telah menyusun National Action Plan for Health Security (NAPHS) 2025–2029. Rencana ini didukung oleh pendanaan dari Pandemic Fund untuk meningkatkan kapasitas deteksi dan respons cepat terhadap wabah.

Berdasarkan kajian bersama Bank Dunia, setiap investasi USD 1 di sektor kesehatan diprediksi akan menciptakan dampak ekonomi (multiplier effect) sebesar USD 3. Dengan menargetkan peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 ke 76 tahun, sektor kesehatan berpotensi menyumbang tambahan 5-6% terhadap PDB nasional, selama seluruh ekosistem industrinya dibangun di dalam negeri.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567 atau email [email protected]. (UW/HY)

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik

Aji Muhawarman, ST MKM

Artikel Sebelumnya
Menkes Dorong Pekerja Rutin Cek Kesehatan Gratis untuk Cegah Penyakit Mematikan

RILIS KEMENTERIAN KESEHATAN


KALENDER KEGIATAN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 4-9
Jakarta Selatan 12950
Indonesia

IKUTI KAMI:

© 2026