CEGAH ZIKA: HEALH ALERT CARD LEBIH DIUTAMAKAN DIBANDING THERMAL SCANNER

DIPUBLIKASIKAN PADA : SABTU, 03 SEPTEMBER 2016 00:00:00, DIBACA : 6.331 KALIJakarta, 3 September 2016

Strategi Kementerian Kesehatan dalam mencegah virus Zika masuk ke Indonesia, salah satu caranya dengan membagikan kartu deteksi Health Alert Card (HAC) kepada masyarakat. Kartu ini dibagikan kepada masyarakat yang baru tiba di Indonesia melalui Bandara dan Pelabuhan setelah melakukan perjalanan dari negara terjangkit.

Di dalam Health Alert Card terdapat informasi yang menyebutkan apabila dalam kurun waktu sampai dengan 10 hari sejak kunjungan menunjukan tanda atau gejala, seperti demam, nyeri persendian, atau terdapat ruam/bercak pada kulit, diharapkan segera melaporkan ke fasilitas kesehatan yang ada, seperti rumah sakit atau Puskesmas.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. Mohamad Subuh, MPPM, menyatakan terkait pencegahan virus Zika, Kementerian Kesehatan mengutamakan deteksi dini melalui Health Alert Card dibandingkan penggunaan Thermal Scanner.

Orientasi dari segi pengamatan kita untuk zika kita ubah. Kita lebih mengedepankan Health Alert Card dibandingkan screening menggunakan thermal scanner yang telah kita pasang baik di Bandara maupun pelabuhan laut, tutur dr. Subuh kepada media di Kementerian Kesehatan, Jumat (2/9).

Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa rerata masyarakat melakukan kunjungan di Singapura hanya satu atau dua hari saja. Menurut dr. Subuh, dalam kurun waktu tersebut, bilapun terinfeksi belum akan menimbulkan gejala atau asymptomatic.

Masa inkubasinya kan 7 sampai 10 hari. Thermal Scanner tetap kita nyalakan untuk menscreening yang sudah muncul gejala. Utamanya saat ini adalah Health Alert Card dengan edukasi bahwa pencegahan yang paling efektif dan diakui di seluruh dunia adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M Plus, terang dr. Subuh.

PSN 3M Plus yaitu: Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air, dan Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Sedangkan Plus-nya adalah segala bentuk kegiatan pencegahan lain diantaranya: 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.